One Battle After Another (2025) - Halah Film
--
Rasanya baru kemarin kita disuguhi film-film auteur yang kerasa artsy tapi sulit dicerna. Namun, Paul Thomas Anderson (PTA) sekali lagi membuktikan bahwa ia bisa menyeimbangkan seni dan blockbuster dengan sempurna lewat film terbarunya, One Battle After Another (2025). Yang bisa MinVan katakan adalah film ini merupakan sebuah cinema experience yang langka, sebuah tour de force yang bikin MinVan terkagum-kagum dari awal hingga akhir. Viva la Revolución!
Film ini merupakan adaptasi dari novel Vineland karya Thomas Pynchon. Bagi yang kenal Pynchon, pasti tau kalo karyanya itu rumit, padat, dan penuh simbolisme. Nah, PTA berhasil nyulap kerumitan itu jadi tontonan yang on-point dan relevan dengan kondisi politik dan sosial saat ini. Pesan-pesannya kerasa sangat dekat dengan realitas kita. Isu-isu tentang ketidakpercayaan pada pemerintah, paranoid, hingga disinformasi, semua di-frame dalam sebuah cerita yang penuh energi dan dark humor.
Bagi MinVan, salah satu kekuatan terbesar film ini adalah kualitas aktingnya. Leonardo DiCaprio sebagai Bob Ferguson, mantan aktivis radikal yang sekarang cuma seorang bapak pecandu ganja yang parnoan setengah mati, ngasih salah satu penampilan terbaik dalam kariernya. Leo berhasil nangkep esensi karakter Bob. Seorang pria yang capek berjuang, tapi naluri revolusionernya masih ada. Ekspresi wajahnya pas panik, tatapannya yang kosong saat high, dan ledakan emosinya pas putus asa, semuanya kerasa sangat believable.
Namun, bukan hanya Leo. Chase Infiniti yang jadi Willa, putrinya, ngasih performance yang sangat mengesankan. Karakter yang punya kedalaman dan pemikirannya sendiri dan bukan sekadar "anak" yang jadi beban ayahnya. Hubungan antara Bob dan Willa jadi jantung emosional film ini, dan chemistry mereka kerasa begitu organik. Peran-peran pendukung juga bukan main-main. MinVan harus menyebut Teyana Taylor yang jadi scene stealer sebagai Perfidia, yang juga seorang revolusioner gerakan French 75. Penampilannya hanya pada Act 1 film, tapi sangat berdampak, dan dialognya kerasa tajam dan menusuk. Lalu ada Benicio Del Toro sebagai Sensei Sergio St. Carlos yang punya karakter kalem sekaligus banyak membawa porsi lucu di film ini. Dia berhasil menciptakan karakter yang dingin tapi punya sisi humor tersendiri, sebuah kehadiran yang mengintimidasi tapi juga menghibur. Jangan lupakan Sean Penn. AKTINGNYA JUARAAA!!! No spoiler, just watch it!
MinVan akui, skenarionya PTA ini cerdas. Beliau berhasil menyeimbangkan antara drama, komedi, dan action tanpa cacat. Adegan car chase di akhir film kerasa sangat absolut sinema dan menegangkan. Resonansi emosional film ini sangat kuat dan sangat terhubung dengan tema keluarga dan perjuangannya.
Kesimpulannya, One Battle After Another adalah film yang solid, berani, dan sangat menghibur. Sebuah penggambaran realitasnya Amerika dengan lensa yang terdistorsi, tapi kerasa otentik. PTA berhasil menciptakan suatu tontonan yang energik, diselipin dark humor, dan pastinya maknanya dalam. Solid dari beragam genre. Action, comedy, drama, romance. Semuanya gokil! Absolut sinema! Wajib kudu banget nonton!
5/5
---
INFORMATION:
Reviewer: VAN
Review Film: One Battle After Another
Studio: Warner Bros. Pictures
Runtime: 2h 42m (162min)
Age Rating: D17+
Release Date: 24 September
Years: 2025
Comments
Post a Comment