The Smashing Machine (2025) - Halah Film
--
Film ini nyeritain kisah nyata Mark Kerr, petarung MMA legend dari era 90-an yang hidupnya penuh tekanan, cedera, dan pergulatan batin. Kerr bukan cuma berjuang di ring, tapi juga di dalam dirinya sendiri. Ada rasa sakit yang gak bisa disembuhin sama kemenangan. MinVan suka cara film ini motret perjalanan Kerr yang pelan tapi berat. Berjuang di tengah tekanan, rasa sakit, dan ekspektasi yang datang dari semua arah. Dan perlu MinVan akui, ini salah satu akting terbaik dari Dwayne Johnson sejauh kariernya. Di sini dia gak tampil sebagai aktor yang cuma jualan otot atau kharisma. Dwayne bener-bener ngelepas image “The Rock” dan main dengan hati. Wajahnya nyimpen banyak rasa. Marah, lelah, takut, tapi tetap pengin bertahan. Dia mainnya total dan emosinya kerasa jujur. Jarang banget Dwayne dapet peran kayak gini, dan kali ini dia ngebuktiin kalau dia bisa jadi aktor serius tanpa harus gebukin apa pun.
Emily Blunt juga ngasih layer emosional yang kuat lewat karakter Dawn Staples. Hubungannya sama Mark kerasa berat, tegang, tapi tetap nyimpen kasih yang gak pernah padam. Setiap dialog mereka berasa punya bobot. Ada rasa capek, pasrah, tapi juga sayang yang gak mau mati. Chemistry mereka natural dan gak dibuat manis. Justru di kekacauan hubungan itulah film ini dapet jiwanya. Ada momen-momen kecil yang malah jadi titik emosional paling dalem. Tatapan, diam, atau napas yang berat habis debat panjang. Semua itu lebih nyentuh daripada adegan melodrama.
Visualnya kasar dan intens, kayak nonton dokumenter. Benny Safdie, sang sutradara, ngebawa DOP yang camera work-nya solid banget. Tau banget cara bikin chaos jadi estetis. Close-up shot-nya, hand-held-nya, POV dari sudut orang lain, dan one-take scene-nya dibuat senatural mungkin. Gak ada yang kerasa palsu. Shot scene MMA juga digarap detail dari pernapasan, luka di kulit, sampai ekspresi pas udah gak kuat. Setiap gerakannya kerasa hidup. Energinya mentah, tapi terarah. Tiap frame punya napas dan nyawa sendiri. Soundtrack-nya juga patut disebutin. Musik garapan Nala Sinephro kerasa halus tapi ngena. Instrumen jazz dan elemen elektroniknya bikin atmosfer film tambah dalam. Musiknya gak maksa buat nangis, tapi ngiringi emosi dengan cara yang elegan. Jadi pas banget sama tone film yang gelap tapi personal.
Meski begitu, film ini gak tanpa masalah. Ritmenya kadang kerasa lambat, apalagi di bagian tengah. Ada beberapa adegan yang berputar di tema yang sama. Jatuh, bangun, terus jatuh lagi, tanpa ngasih layer baru ke karakter Kerr. REPETITIF. Seolah film ini terlalu menikmati penderitaan Kerr tanpa ngajak penonton masuk lebih dalam ke kepala dan pikirannya. Selain itu, pacing antar-scene kadang agak timpang. Transisi dari ring ke kehidupan pribadi sering kerasa mendadak, bikin emosi yang udah dibangun sebelumnya agak keputus. Ada juga beberapa subplot yang kayaknya punya potensi besar, tapi akhirnya cuma dilewatin aja. Misalnya hubungan Kerr sama rekan sesama petarung atau timnya. Muncul sekilas, tapi gak dikasih ruang buat berkembang. Jadinya bagian itu cuma lewat tanpa efek emosional yang berarti.
Dawn Staples sebagai karakter pendamping juga kadang berasa di pinggir. Padahal Blunt udah main bagus banget. Tapi film gak ngulik cukup jauh sisi psikologis Dawn. Gimana dia menghadapi tekanan, atau gimana perasaannya waktu hidup di bayang-bayang ketenaran Mark Kerr. Padahal kalau bagian ini lebih dieksplor, emosinya bisa lebih nendang. Buat penonton yang gak terlalu ngikutin dunia MMA, kayak MinVan, film ini mungkin agak kurang ngasih konteks tentang sejarah dan teknis pertarungan. Pertarungannya kuat secara visual, tapi beberapa momen penting di ring kerasa “lewat aja” tanpa dijelasin kenapa penting buat karier Kerr. Kalau sedikit dikasih konteks, mungkin impact-nya bakal lebih besar.
Dan terakhir, build-up emosionalnya gak selalu punya ledakan besar. Film ini lebih milih kesunyian daripada klimaks dramatis. Itu bisa dibilang plus-minus. Buat sebagian orang, ending-nya mungkin kerasa datar. Tapi buat yang suka realisme, justru di situlah kejujuran film ini hidup. Secara teknis, film ini juga solid banget. Durasi sekitar dua jam lewat sedikit, tapi pacing-nya cenderung tenang. Budget-nya cukup besar buat ukuran film biografi (sekitar USD 50 juta), tapi hasil akhirnya lebih condong ke film festival daripada blockbuster. Film ini juga debut di Venice Film Festival dan Benny Safdie dapet penghargaan Silver Lion untuk penyutradaraan. Dari segi box office, hasilnya memang gak spektakuler. Cuma sekitar USD 5,9 juta di minggu pembuka. Tapi buat film sejenis, itu bukan angka yang jelek.
Safdie sendiri emang terkenal dengan gaya visual yang mentah dan intens kayak di Uncut Gems (2019). Di sini, dia nerapin hal yang sama, tapi dengan rasa lebih personal dan gelap. Gaya penyutradaraannya fokus ke wajah dan emosi, bukan ke aksi. Dan itu berhasil bikin film ini kerasa dekat, kayak kita duduk di sebelah Kerr tiap kali dia nahan sakit.
Kesimpulannya, The Smashing Machine adalah drama biografi olahraga yang tampil apa adanya. Keras, jujur, dan emosional. Arahan yang kuat dari Safdie, performa yang solid dari Dwayne, dan emosi yang tulus dari Emily. Meski ritmenya kadang lambat dan beberapa subplot kerasa setengah mateng, film ini tetap kuat karena berani buat gak berusaha jadi film motivasi atau kisah inspiratif. Cerita yang repetitif, tapi tetap seru untuk ditonton.
3,5/5
---
INFORMATION:
Reviewer: VAN
Review Film: The Smashing Machine
Studio: A24
Runtime: 2h 3m (123 min)
Age Rating: R13+
Release Date: 10 October
Years: 2025
Comments
Post a Comment