Tron: Ares (2025) - Halah Film


VISUALNYA NENDANG, CERITANYA KURANG BANGET

--

Tron: Ares jadi kelanjutan dari dunia digital legend, The Grid, yang pertama kali dikenalin di Tron: Legacy (2010). Bedanya, kalau dulu ceritanya masih muter di dunia dalam komputer, sekarang justru kebalik, yaitu program digital dikirim ke dunia nyata. Fokus utamanya ada di Ares (Jared Leto), sebuah program buatan yang dikirim ke real world buat ngejalanin misi. Dari situ, mulai muncul kekacauan antara manusia dan AI. Tema besarnya cukup jelas, yaitu siapa yang sebenernya "hidup"? Siapa yang punya hak buat megang kendali atas dunia? Dan kalau manusia bisa nyiptain AI, siapa yang berani jamin mereka gak akan balik ngatur penciptanya? Premisnya itu sebenernya keren, apalagi di tengah zaman AI kayak sekarang. Tapi sayangnya, idenya yang potensial ini gak dibarengin sama penceritaan yang solid. Semuanya kayak cuma nyentuh permukaannya aja.

Masalah yang paling kerasa justru di bagian naskah dan alurnya. Film ini kayak pengen keliatan dalem dan filosofis, tapi malah kerasa kayak draft yang belum selesai. Transisi antar-scene terlalu cepat, beberapa konflik tau-tau ada dan hilang begitu aja. Bahkan, beberapa momen yang seharusnya emosional malah gak ngena sama sekali. Ares, yang seharusnya jadi pusat emosi dan filosofi film ini, gak pernah bener-bener punya ruang buat berkembang. Jadinya, ya, karakter utamanya sendiri gak kerasa punya bobot. Film ini kayak pengen ngomong sesuatu tentang eksistensi dan identitas, tapi gak pernah nemu cara buat nyampeinnya.


Secara visual, Tron: Ares masih enak buat diliat. Desain dunianya tetap mempertahankan ciri khas Tron. Penuh cahaya neon, garis-garis futuristik, dan The Grid-nya yang luas. Adegan action-nya, terutama light-cycle chase di dunia nyata, bener-bener memanjakan mata. Gerakannya mulus dan warnanya intens. Tapi di luar itu, banyak momen yang kerasa cuma pamer visual. Efek visualnya boleh keren, tapi kalau gak didukung cerita yang kuat, ya, jatuhnya cuma kayak, "meh." Sibuk pamer teknologi ketimbang emosi.

Aktingnya juga sayangnya gak banyak menolong. Jared Leto keliatan udah berusaha, tapi karakternya kurang punya lapisan. Dia kayak ditulis buat keliatan "misterius dan dalem", padahal kurang dikasih characer development yang bagus. Greta Lee sebagai Eve Kim juga sebenernya punya potensi jadi side character, tapi ya itu tadi, gara-gara ceritanya yang kurang. Begitu juga Evan Peters yang jadi Dillinger. Padahal dia bisa aja jadi tokoh antagonis yang ok, tapi kok malah dibuat kayak figuran. Semua karakter kerasa flat, gak ada perkembangan emosional yang bikin kita empati atau bahkan cuma sekadar simpati sama karakternya. Lagi-lagi, estetika > emosional.


Bagian dialog dan humor juga gak membantu. Banyak percakapan yang kerasa gak natural. Beberapa punchline kayak dipaksa banget, dan gak ada yang bener-bener lucu. Kalau pun ada, itu lebih karena kita ngerasa awkward daripada memang pengen ketawa. Naskahnya kerasa kaku. Padahal kalau aja film ini mau sedikit lebih sadar diri, mungkin bisa lebih enjoyable. Tapi, ya, itu... Tron: Ares terlalu sibuk nyoba keliatan “serius dan penting”, padahal esensinya gak pernah kuat sejak awal.

Yang bener-bener nyelamatin film ini cuma satu, yaitu musiknya. MinVan yakin mereka cuma mau pamer soundtrackSoundtrack dari Nine Inch Nails (NIN) jadi faktor paling standout di sepanjang film. Mereka ngebawa energi industrial, gelap, intens, dan penuh lapisan retro synthwave yang khas. Suara bass-nya dalem banget, sampai bisa kerasa getarannya di kursi bioskop. MinVan nonton di studio Dolby Atmos, dan sumpah, semua speaker nyala. Dari atas, depan, belakang, kanan, kiri... semuanya aktif. Nuansa musiknya sinkron banget sama visualnya yang serba neon, tapi ironisnya, justru musiknya yang kerasa lebih hidup daripada filmnya sendiri.

Kesimpulannya, Tron: Ares adalah tontonan kalau kalian mau turu di bioskop sambil dengerin musik banger-nya NIN. Visual pencahayaan neon-nya boleh megah, musik retro synthwave-nya boleh keren, dan nuansa cyber-futuris-nya boleh berkelas. Tapi cerita dan eksekusinya belum cukup kuat buat bikin kita bener-bener tenggelam. Datar dan kurang meninggalkan pesan. Banyak momen yang seharusnya ok, tapi malah lewat gitu aja. Kalau kalian mau nonton, silakan. Kalau tidak juga tidak rugi. Halah!

2,5/5

---

INFORMATION:

Reviewer: VAN

Review Film: Tron: Ares

Studio: Walt Disney Pictures

Runtime: 1h 59m (119 min)

Age Rating: R13+

Release Date: 8 October

Years: 2025

Comments

FILM PALING ASIK!

Tunggu Aku Sukses Nanti (2026) - Halah Film

One Battle After Another (2025) - Halah Film

Summer Pocket (2025) - Halah Anime