28 Years Later: The Bone Temple (2026) - Halah Film
ZOMBI HILANG DUNIA, MANUSIA HILANG NURANI
--
Baru Rabu kedua di awal tahun ini, kita udah dikasih tontonan yang bagus lewat film ini. Di awal tahun biasanya para Production House masih pemanasan, tapi film satu ini dateng dengan posisi yang pas sebagai salah satu pembuka kalender bioskop 2026. MinVan sendiri gak sabar nonton film ini setelah tahun lalu ada 28 Years Later (yang juga #HalahApproved, BTW) dan sekalian mau liat sejauh apa franchise 28 ini dibawa. Di film kedua dari trilogi 28 Years Later ini, Nia DaCosta duduk di kursi sutradara. Sementara itu, naskahnya ditulis lagi sama Alex Garland.
Film ini punya pendekatan yang agak beda. Kalau kemarin alurnya satu cerita, di sini kerasa kayak dua cerita yang jalan masing-masing. Hampir kayak nonton dua short film di satu film. Satu sisi ngikutin Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes), sisi lain ngikutin perjalanan Spike (Alfie Williams) yang sekarang terpaksa ikut cult bernama The Jimmies yang dipimpin Sir Jimmy Crystal (Jack O'Connell) dengan ideologi yang gelap dan ekstrem. Gak kayak film sebelumnya juga, film ini termasuk minim jumpscare. Tadi MinVan itung cuma ada tiga atau empat gitu. Namun, sebagai gantinya, film ini jauh lebih brutal, disturbing, dan sadis. Jujur, MinVan sampai agak ngilu tadi liatnya.
Film ini juga milih buat nahan diri, ngebangun alurnya pelan-pelan sampai akhirnya dua cerita tadi ketemu di satu titik yang cukup intens dan gak nyaman buat ditonton. Hal yang paling kerasa buat MinVan, sedikit spoiler, MinVan gak ekspek kalau dunia medis bakal banyak dibahas di film ini, termasuk kondisi mental zombinya. Di sini ada “terapi” dan obat-obatan muncul jadi salah satu bagian penting dari ceritanya. Approach ini yang bikin filmnya kerasa lebih grounded, apalagi buat genre horor post-apocalyptic yang biasanya cuma fokus ke survival fisik.
Dari segi sinematografi, film ini syuting pakai Arri Alexa 35 digital camera, beda kayak film sebelumnya yang pakai iPhone 15 Pro. Jadi, film ini kerasa mainstream dengan panoramik dan action hand held-nya yang gak seunik tahun lalu. Namun, visualnya konsisten dan tetap enak buat dipandang. Kerasa gelap dan kotor, sesuai sama worldbuilding-nya. Dari sisi akting, Ralph Fiennes jadi salah satu alasan kenapa film ini gampang diinget. Karakternya tenang tapi unsettling, maklum udah hidup sendiri bertahun-tahun. Jack O’Connell juga di sini keliatan banget bahayanya, lebih bahaya dari film vampirnya. Scoring dan pemilihan musiknya juga sangat josss, layak MinVan shoutout. Lagu-lagunya dari era yang beda sama latar filmnya, contohnya Radiohead, Iron Maiden, Duran Duran, dsb.
Kesimpulannya, 28 Years Later: The Bone Temple adalah lanjutan yang berani dan cukup mateng. Film ini gak ngejar horor zombi dar-der-dor, tapi lebih fokus ke suasana, karakter, sama konflik psikologis dan moralnya. Ada beberapa bagian yang mungkin kerasa sedikit ketebak, sangat sedikit. Namun, secara keseluruhan ini adalah pengalaman nonton yang bagus. Oh, iya... inget kata-kata MinVan: sepuluh menit terakhir adalah waktu di mana film ini nunjukin dirinya sebagai sebuah seni. Indah dan how the tables have turned. Dan di lima menit terakhir, kalian akan merinding bahagia! Sebagai tontonan awal tahun, film ini ngasih pembuka yang cukup kuat dan bikin penasaran ke arah mana trilogi ini bakal ditutup. Sampai bertemu di 28 Years Later berikutnya. Halah approved!
4/5
---
INFORMATION:
Reviewed by MINVAN
Review Film: 28 Years Later: The Bone Temple
Producers: Danny Boyle, Alex Garland, Andrew Macdonald
Director: Nia DaCosta
Writer: Alex Garland
Production Companies: Columbia Pictures
Cast: Ralph Fiennes, Alfie Williams, Jack O'Connell
Genre: Thriller
Runtime: 1h 49m (109 min)
Age Rating: D17+
Release Date: 14 Januari 2026
Original Release Year: 2026
------------------------------------------------ SPOILER COLUMN ------------------------------------------------
Spoiler Column ini bahas dikit soal Samson, salah satu zombi Alfa yang diperanin sama Chi Lewis-Parry. BTW, kata zombi keliatannya baru pertama kali diucapin di film ini sama Sir Jimmy Crystal. JADI, SIAPA YANG SEBENERNYA ZOMBI? ZOMBI YANG TERNYATA PUNYA KEMANUSIAAN ATAU MANUSIA YANG RAGE SEPERTI ZOMBI? Pertanyaan itu justru jadi inti paling kuat dari film ini. Samson di film ini masih nunjukin sisa empati, ikatan, dan respons emosional yang jujur. Dia bergerak dengan naluri, tapi tanpa kepura-puraan. Di sisi lain, manusia yang masih "waras" justu milih kekerasan, ritual, dan cult ekstrem dengan sadar dan sangat mendalami malah. Rage mereka punya arah, tujuan, bahkan pembenaran. Di titik itu, garis antara manusia dan zombi jadi kabur. Kemanusiaan gak lagi ditentuin sama udah kena infeksi apa belum atau kondisi tubuhnya gimana, tapi oleh pilihan. Siapa yang masih bisa merasakan, dan siapa yang rela ngelepas empati demi rasa aman, tapi rasa amannya palsu. Dan di dunia The Bone Temple, jawaban itu kerasa semakin gak nyaman. Zombi kehilangan dunia, manusia kehilangan nurani. Di ending bisa kita lihat, Samson "sembuh" berkat Dr. Ian Kelson yang masih memanusiakan dia walaupun pada saat itu ia masih jadi zombi. Namun, apa bayarannya? Dr. Ian Kelson mati ditusuk Sir Jimmy Crystal, seorang manusia yang malah tidak ada rasa kemanusiaannya. Yah, walaupun akhirnya ia juga "mati" disalib terbalik. Bonus spoiler: Dengan film ini, Cillian Murphy resmi balik sebagai Jim di ending dan siap berlanjut ke film selanjutnya!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Comments
Post a Comment