Esok Tanpa Ibu [Mothernet] (2025) - Halah Film


SIMULASI RINDU YANG MENYAYAT HATI

--

MinVan nonton ini cuma berbekal tau info kalau tahun lalu film ini sempet World Premiere di Busan International Film Festival sama tayang di JAFF. Ditambah lagi, tahun ini mereka sukses ngeborong empat nominasi di Festival Film Tempo. Kemarin MinVan sempet agak iri karena filmnya tayang duluan di beberapa kota, tapi kota MinVan malah gak kebagian. Jadi, pas akhirnya rilis reguler 22 Januari kemarin, MinVan nonton film ini. Dan ternyata, ini adalah sebuah sajian drama fantasy yang high-quality dan punya kelas sendiri! Pertama, yang MinVan notice dan MinVan suka di sini adalah sinematografi dan konsepnya.


Mulai dari pemilihan warna, color grading, framing, komposisi, lighting, sampai camera movement-nya natural banget. Konsep tentang AI di film ini juga kerasa fresh, walaupun gak jadi yang pertama alias udah ada film lainnya yang pakai konsep ini duluan. Tapi setidaknya hal ini jadi penyegaran lagi buat perfilman Indonesia. AI yang dipakai di film ini namanya i-BU. MinVan suka aktingnya Ali Fikry sebagai rama, dia bisa nampilin transisi emosi anak yang kesepian dengan natural. Pas scene dia mulai pakai i-BU buat mancing kerja otak ibunya yang koma, MinVan ikut ngerasain hope-nya dia. Salute!


Di film ini, MinVan juga dibikin betah buat ngikutin pelan-pelan gimana Rama berusaha nyembuhin luka hatinya sendiri. Rama sama ayahnya (Ringgo Agus Rahman) juga jadi satu hal yang menarik karena karakternya kerasa manusiawi. Jadi, ceritanya mereka ini gak begitu deket. Rama deket cuma sama ibunya. Sepanjang film, MinVan ngeliat ke-awkward-an itu. Sangat natural, estetik, dan rasa galaunya juga kerasa. Background music dan soundtrack-nya juga pinter nempatin diri, gak kerasa mendikte perasaan MinVan. Hal lain yang bikin MinVan kagum adalah film ini juga nunjukin soal hubungan antara manusia sama memori digital.


Dian Sastrowardoyo, baik sebelum koma sampai adanya i-BU ini, aktingnya sejalan sama emosi yang pengen disampein. Penggambaran AI-nya juga demikian yang bikin sosok i-BU ini kerasa apa adanya. Karakter pendukungnya juga jadi penghibur di tengah scene emosionalnya. Ho Wi Ding, sutradara film ini, tau gimana caranya bikin film dengan kedalaman kayak gini. BTW, beliau ini sutradara asal Malaysia yang bikin film Taiwan, jadi ini adalah film kolaborasi. Di IMDb juga disebut kalau Countries of origin dari film ini adalah Indonesia, Singapura, dan Taiwan. Kerja sama yang soliddd!


Kesimpulannya, Esok Tanpa Ibu [Mothernet] adalah sebuah karya yang berani mengeksplorasi sisi gelap sekaligus sisi indah dari sebuah kehilangan. Kehadiran AI di sini ngasih pelajaran kalau secanggih apa pun teknologi, dia cuma bisa niru permukaannya tanpa bisa nyentuh esensi dari kasih sayang yang asli. Pilihan Rama buat ngadepin hal tersebut adalah bentuk cinta paling jujur dibanding terus sembunyi di balik simulasi. Film ini sukses ngebuktiin kalau kualitas festival itu emang gak bohong. Halah approved!

4/5

---

INFORMATION:
Reviewed by MINVAN
Review Film: Esok Tanpa Ibu [Mothernet]
Producers: Shanty Harmayn, Dian Sastrowardoyo, Tanya Yuson
Director: Ho Wi Ding
Writer: Gina S. Noer, Diva Apresya, Melarissa Sjarief
Production Companies: BASE Entertainment, Beacon Film, Refinery Media
Cast: Ali Fikry, Ringgo Agus Rahman, Dian Sastrowardoyo
Genre: Drama, Fantasy
Runtime: 1h 47m (107 min)
Age Rating: R13+
Release Date: 22 Januari 2026
Original Release Year: 2025

Comments

FILM PALING ASIK!

Tunggu Aku Sukses Nanti (2026) - Halah Film

One Battle After Another (2025) - Halah Film

Summer Pocket (2025) - Halah Anime