Suka Duka Tawa (2025) - Halah Film
KALAU LUKA BISA JADI MATERI
--
Film ini sebenernya jadi closing film JAFF kemarin dan udah tayang duluan di beberapa kota. Waktu itu MinVan belum punya kesempatan buat ikut nonton, jadi film ini sempet kelewat begitu aja dari tontonan MinVan akhir tahun lalu. Baru 8 Januari ini akhirnya MinVan bisa nyusul, nonton dengan kondisi yang lebih santai dan tanpa ekspektasi berlebih. Menariknya, film ini juga kerasa spesial karena film ini jadi film pertama yang MinVan tonton di bioskop di tahun 2026, jadi ada kesan pembuka yang cukup berkesan pas mau nonton. Pertanyaannya, apakah isi film ini juga spesial dan berkesan?
Masuk ke filmnya, kesan pembuka itu pelan-pelan dibentuk lewat cara sang sutradara, Aco Tenriyagelli, nyusun ritme cerita dan ngenalin karakter-karakternya. Walaupun genre-nya Drama/Comedy/Family, gak ada dorongan buat mancing penonton ketawa atau emosi dari awal, semuanya dibiarin jalan dengan tempo yang santuy. Dari situ, film ini mulai kerasa nyaman buat diikutin. Duduk dan enjoy the show aja. Nuansa komedinya ngalir secara natural. Senyum oke, ketawa oke. Beberapa dialognya kerasa kayak everyday conversation yang kebetulan direkam kamera. Ringan, tapi punya bobot emosi yang jelas arahnya.
Rachel Amanda ngebawa karakter Tawa dengan pembawaan yang kalem dan believable dengan segala macam masalah yang ia alami di film ini. Gesturnya pas, emosinya kebaca, dan gak kayak dibuat-buat. Tawa digambarin sebagai seorang komika muda yang jadi populer karena materi stand-up tentang kisah pahit masa kecilnya, termasuk aib sang ayah, Keset (Teuku Rifnu Wikana). Interaksi Tawa dengan Pak Keset ini juga ngebuka ruang refleksi soal relasi keluarga, luka lama yang dipendam, dan cara masing-masing orang milih damai sama masa lalunya. Di film ini, bukan dialog yang jelasin, tapi emosi tiap karakternya.
Selain relasi ayah-anak, karakter lain juga jadi pemanis di film ini. Contohnya ibunya Tawa dan sahabat-sahabat yang juga nambah layer emosionalnya. Pengaruh Aco sebagai sutradara music video juga cukup kerasa di beberapa scene yang ngelibatin lagu. Visualnya rapi, ritmenya enak diikutin, dan transisinya halus. Pemilihan gayanya konsisten dan josss. Namun, dikarenakan komedinya ngalir secara natural, terlalu natural bahkan kalau menurut MinVan, pola jalan komedinya jadi hit and miss. Tapi ketika momen punchline-nya dapet, efeknya cukup ngena dan bertahan agak lama.
Kesimpulannya, Suka Duka Tawa hadir jadi tontonan Drama/Comedy/Family yang jujur dan enjoyable. Pilihan temponya yang santai bikin MinVan nyaman nontonnya. Suka ada, duka ada, tawa ada. Yahhh, walaupun... di beberapa bagian justru kerasa terlalu ngalir sampai momennya ilang. Beberapa jokes-nya juga hit and miss dan ada momen emosional yang terlalu draggy, khususnya di ending. Kayak terlalu pengen shot emosi facial expression-nya cuma ada di dua karakter ini. Karakter A, cut, karakter B, cut, repeat. Meski begitu, secara keseluruhan, pengalaman nontonnya tetap menyenangkan, dengan rasa yang cukup berkesan setelah lampu studio nyala. Perlu ditonton bareng keluarga sih ini biar rasa parenting-nya dapet. Tontonan pertama bioskop awal tahun yang Halah!
3,5/5
---
INFORMATION:
Reviewed by MINVAN
Review Film: Suka Duka Tawa
Producers: Tersi Eva Ranti, Ajish Dibyo
Director: Aco Tenriyagelli
Writer: Indriani Agustina
Production Companies: Bion Studios, Spasi Moving Image
Cast: Rachel Amanda, Teuku Rifnu Wikana, Marissa Anita
Genre: Drama, Comedy, Family
Runtime: 2h 7m (127 min)
Age Rating: R13+
Release Date: 8 Januari 2026
Original Release Year: 2025
Comments
Post a Comment