Marty Supreme (2025) - Halah Film


DREAM BIG.

--

Produksi A24, disutradarai Josh Safdie, dan dibintangi Timothée Chalamet sebagai Marty Mauser. Menariknya, kali ini Safdie Brothers gak bikin film barengan. Benny Safdie ngerjain The Smashing Machine (TSM), sementara Josh bikin Marty Supreme (MS). Dua-duanya rilis 2025 kemarin, tapi MS baru masuk bioskop Indonesia Februari ini lewat KlikFilm, sekalian jadi “syukuran” atas 9 nominasi Oscar yang mereka dapet. THANK YOU! MINVAN LOVES YOU SO MUCH! Namun, terlepas dari euforia Oscar dan hype distribusi itu, yang bikin film ini kerasa kuat adalah sentuhan Safdie-nya. Kombinasi A24 dan Safdie emang selalu kerasa serius dan chaotic.


Energinya gelisah dan kadang absurd. Mirip vibe-nya Uncut Gems (2019), walaupun kali ini arenanya meja ping-pong. Dari awal, film ini udah gercep banget. Editing-nya agresif, scoring-nya tight, dan kameranya kayak nempel terus ke Marty. Ironisnya, adegan ping-pong-nya sendiri justru gak sebanyak itu. Fokusnya lebih ke tekanan mental dan ambisi personalnya. Marty adalah karakter yang egonya besar dan obsesif. Dia pengen diakui, dihormati, dsb. Dunia ping-pong yang dia geluti juga kerasa keras, dan sama-sama kerasnya dengan kehidupannya sendiri.


Energi ngotot dari filmnya juga sangat kerasa. Siap-siap dialog bejibun menanti Anda. Film ini bukan kisah orang baik, gagal, terus belajar jadi bijak. Nope. Ini tentang orang yang pokoknya gak mau berhenti buat ngejar passion-nya apapun risiko, tuntutan, dan masalahnya. MinVan ngerasa dari awal film emang gak pernah dikasih ruang buat istirahat. Dan itu disengaja. Timothée Chalamet di sini bener-bener jadi tulang punggung. Seorang “maniac” yang hidupnya gali lubang, tutup lubang. Masalahnya ada terus. Ada beberapa momen MinVan ngerasa dia kayak bukan lagi akting, tapi orang beneran yang lagi dikejar masalah.


Dia bikin Marty ngeselin, egois, tapi anehnya... kita tetep mau ngikutin dia. Dan itu susah banget buat dicapai. Tapi ya itu, di balik energinya yang meledak-ledak, ceritanya kadang kerasa terlalu padat. Ritmenya ngebut terus sampai MinVan butuh jeda buat cerna. Secara teknis dan vibe, film ini bagus. Namun, secara emosional, gak semuanya soft landing. Buat MinVan, ini film yang seru dibahas habis nonton. Namun, buat ditonton ulang dalam waktu dekat? Hhmmm... mungkin tidak dulu. Bagus, tapi one-time watch. Kayaknya film ini cocok ditonton pas buka puasa karena ceritanya beneran bikin capek.


Kesimpulannya, Marty Supreme adalah perjalanan yang wild and full of adrenaline. Melelahkan, tapi juga memikat. Film ini berdiri sebagai character study yang intens tanpa nawarin sweet redemption di akhir. Yang ditawarin adalah potret ambisi yang mentah, never stop, never quit, bahkan ketika semua tanda udah nyuruh berhenti. MinVan enjoy sama energinya, keberaniannya, dan MinVan akui kualitas performa utamanya serta ke-keos-annya. Pengalaman duduk sambil nonton orang main ping-pong sekaligus dapat bonus cerita hidupnya, dan mungkin memang itu yang diniatkan. Dream big. Halah approved!

4/5

---

INFORMATION:
Reviewed by MINVAN
Review Film: Marty Supreme
Producers: Ronald Bronstein, Eli Bush, Timothée Chalamet
Director: Josh Safdie
Writer: Josh Safdie, Ronald Bronstein
Production Companies: A24, Central Pictures, IPR.VC
Cast: Timothée Chalamet, Gwyneth Paltrow, Odessa A’zion
Genre: Drama, Sport
Runtime: 2h 30m (150 min)
Age Rating: D17+
Release Date: 25 Februari 2026
Original Release Year: 2025

Comments

FILM PALING ASIK!

Tunggu Aku Sukses Nanti (2026) - Halah Film

One Battle After Another (2025) - Halah Film

Summer Pocket (2025) - Halah Anime